Tuesday, April 6, 2021

Anotasi Makalah: The Evolution of Online Violent Extremism in Indonesia and the Philippines Oleh Nava Nuraniyah

Nava Nuraniyah. 2019. “The Evolution of Online Violent Extremism in Indonesia and the Philippines”, Global Research Network on Terrorism and Technology, (5): 1–16

 

Kata Kunci: cybercrime, cyber terrorism, cyber criminology


Makalah berjudul ‘The Evolution of Online Violent Extremism in Indonesia and the Philippines’ yang ditulis oleh Nava Nuraniyah ini menjelaskan mengenai peningkatan penggunaan internet dan media daring di kalangan kelompok pro-Daesh, yang juga dikenal sebagai Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS, baik di Negara Indonesia maupun Filipina. Makalah ini juga membahas mengenai hubungan atau korelasi antara penggunaan internet dan media daring terhadap perkembangan jaringan kelompok pro-Daesh di dua negara tersebut. Media sosial dan aplikasi obrolan yang terenkripsi dianggap berperan dalam perkembangan ekstremisme di Indonesia dan Filipina dalam empat bidang utama, yaitu pencitraan (branding), rekrutmen (rekruitment), pendanaan (fundraiser), serta meningkatnya peran perempuan.


Pembahasan di dalam makalah ini dibuka dengan penjelasan mengenai latar belakang yang berbeda dari kelompok ekstremis islam di dua negara tersebut. Di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, ekstremisme muncul pada tahun 1950-an sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk mendirikan negara islam. Sedangkan di Filipina, ekstremisme muncul sebagai gerakan pemberontakan bersenjata yang memperjuangkan otonomi atau kemerdekaan bagi masyarakat Muslim Moro di Pulau Mindanao. Kedua gerakan ini sama-sama menjalin hubungan dengan organisasi jihadis global yatu Al-Qaeda, yang berujung pada terbentuknya kamp pelatihan yang dikelola oleh Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia, serta Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Filipina.


Adanya latar belakang yang berbeda dari dua kelompok ekstremis ini, turut mempengaruhi bagaimana kedua kelompok ini menggunakan internet dan media daring. Ekstremis di Indonesia cenderung lebih mudah beradaptasi dengan penggunaan internet dan media daring, sementara ekstrimis di Filipina, cenderung lebih lambat. Hingga tahun 2003, hanya beberapa pejuang front Moro yang memiliki alamat email, sedangkan di Indonesia, penggunaan internet dan media daring dapat ditelusuri eksistensinya sejak peristiwa Bom Bali, dengan digunakannya layanan mailing list Yahoo dan mIRC oleh Imam Samudra sebagai media penyebaran ideologi organisasinya.


Dalam konteks branding, eksistensi dari media sosial yang terenkripsi dipandang telah memudahkan ekstremis Asia Tenggara untuk membangun citra yang jelas dengan simbol dan pesan terkait yang ditujukan untuk menarik pengikut baru. Hal ini tercermin dari citra kelompok Daesh yang memberi daya tarik lebih bagi generasi kedua pemberontak di Mindanao. Dimana media Telegram secara strategis digunakan untuk mengiklankan propaganda mereka, dengan tujuan mendapatkan rekognisi formal dari kelompok utama Daesh yang berada di Suriah. Dalam makalah ini penulis juga menggarisbawahi peran perempuan sebagai alat propaganda yang memainkan peran penting dalam menjaga relevansi citra kelompok pada taraf regional maupun internasional.


Dalam konteks rekrutmen, media sosial berperan sebagai sarana perekrutan secara horizontal maupun vertikal, meskipun jarang menghasilkan pelaku teror tunggal (lone wolf) baik di Indonesia maupun Filipina. Perekrutan bisa berlangsung secara top-down (pemimpin yang aktif merekrut) maupun bottom up (simpatisan yang aktif menghubungi pimpinan). Media sosial seperti Facebook dan Telegram juga membuat perekrutan secara peer-to-peer, lebih mudah diakses dan berlangsung lebih cepat. Hal ini sekaligus berguna bagi simpatisan perempuan yang khususnya memang bercita-cita (aspire) untuk terlibat langsung dalam aksi-aksi jihad, yang pada awalnya didominasi oleh laki-laki. Kasus Ika Puspitasari, seorang pekerja migran, merupakan salah satu contoh konkrit keterlibatan perempuan yang memanfaatkan sarana ini.


Dalam konteks pendanaan, media sosial menyediakan platform bagi para ekstremis untuk menggalang dana secara lebih mudah dari para pendahulu mereka. Penggalangan dana secara terbuka seringkali dibingkai sebagai himbauan untuk mendukung keluarga dari pelaku yang sudah meninggal (martir) maupun pelaku yang sedang dipenjara, seperti yang terjadi dalam kasus lembaga amal Gerakan Sehari Seribu (Gashibu project) dan Aseer Crue Center yang mengumpulkan dana dengan dibingkai sebagai sumbangan untuk istri dan anak-anak dari narapidana terorisme.


Sumber: Nava Nuraniyah. 2019. “
The Evolution of Online Violent Extremism in Indonesia and the Philippines”, Global Research Network on Terrorism and Technology, Paper No. 5, 16 halaman, terdapat dalam https://rusi.org/publication/other-publications/evolution-online-violent-extremism-indonesia-and-philippines (terakhir diakses 6 April 2021)

0 comments:

Post a Comment

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright © . Wildan Poenya - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger